Lala yang mendengar keluhan Lynx, menambahkan, "Kau harus belajar menyesuaikan tenaga dengan kebutuhan. Tidak setiap serangan membutuhkan kekuatan penuh."

Mochi mengangguk. "Dan untuk itu, kita akan lanjutkan lagi dengan latihan ketahanan."

"Makanlah ini untuk mengembalikan tenagamu." Kata Lala sambil melemparkan sebuah apel yang si temukannya.

"Terimakasih Lala," kata Lynx sambil mencari posisi duduk untuk bermeditasi.

"Aku harus segera bisa menguasai kekuatan ini. Aku dapat merasakan ada bahaya yang lebih besar lagi akan muncul dan dapat membahayakan kelangsungan hidup penduduk pulau ini." Batin Lynx sambil mulai bermeditasi. "Energi ini terasa sangat hangat. Lelah tubuhku mulai menghilang. Kekuatan yang ku miliki sangat luar biasa."

Berkat latihannya selama beberapa hari ini dan bimbingan Mochi yang tidak kenal lelah melatihnya, membuat Lynx merasakan perbedaan yang sangat besar pada tubuhnya. Lynx mulai terbayang pertarungan-pertarungan yang sudah dilakukannya. Lynx bisa melihat, gerakan-gerakan yang dilakukannya selama ini hanyalah berdasarkan nalurinya di dukung kekuatan dan kecepatannya.

Lynx mulai menyadari perbedaan bertarung dengan menggunakan teknik dan bertarung menggunakan sekadar kekuatan, sangat berbeda hasilnya.

Kini Lynx sudah mulai terbiasa dengan cepat menyerap kekuatan yang ada di sekitarnya, namun untuk dapat menggunakannya dengan baik, dia masih perlu latihan.

"Kakek, luka-luka di tubuhnya dapat sembuh dengan cepat." Kata Lala setelah melihat luka di tubuh Lynx akibat serangan makhluk mutasi yang dilawannya, mulai menghilang.

"Pantas..." kata Mochi sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. "Pantas pemerintah berani melakukan apapun untuk mendapatkan kekuatan ini." Jawab Mochi. "Apapun yang terjadi, jangan biarkan kekuatan ini jatuh ke tangan orang lain. Akan terjadi kekacauan di dunia ini jika banyak orang yang memiliki kemampuan seperti Lynx." Kata Mochi sambil membayangkan peperangan di mana-mana akibat memiliki kekuatan yang luar biasa.

Lala menganggukkan kepalanya. "Aku paham Kek, tidak akan aku biarkan kekuatan ini jatuh ke tangan yang salah."

Lala dan Mochi lalu ikut duduk bersila untuk melatih dan meningkatkan kemampuan tenaga dalam mereka.

Setelah energi Lynx kembali pulih, Mochi memulai latihan ketahanan Lynx dengan metode yang sederhana tapi efektif. Mereka menemukan jalan setapak yang menanjak di tengah hutan berbatu, dan Mochi meminta Lynx membawa beberapa potongan kayu besar di punggungnya.

"Cobalah, keluarkan kekuatanmu lagi dengan maksimal dan angkat, Kita akan mengetahui seberapa kuat dirimu dan berapa banyak yang mampu kamu tahan." Kata Mochi.

"Kenapa aku harus membawa ini?" tanya Lynx sambil mengangkat satu potongan kayu besar.

"Kau tidak hanya perlu mengontrol energimu, tapi juga meningkatkan ketahanan tubuhmu," jawab Mochi. "Latihan ini akan membantu tubuhmu terbiasa dengan beban berat tanpa menguras energi terlalu cepat."

Lynx mengangkat kayu itu dengan mudah, tetapi beberapa langkah kemudian, dia mulai merasa kelelahan.

"Aku merasa tubuhku cepat sekali lemas," keluh Lynx.

"Itu karena kau tidak pernah melatih energimu untuk bertahan lama," kata Mochi. "Kau hanya bisa mempertahankan kekuatanmu dalam jangka pendek. Dan juga kamu harus melatih kekuatan ototmu untuk menyesuaikan kekuatan yang kamu miliki."

Mochi menyuruh Lynx berhenti setiap kali terlihat kelelahan, memberinya waktu untuk mengatur napas sebelum melanjutkan. Sedikit demi sedikit, Lynx mulai terbiasa dengan beban itu, dan tenaganya tidak lagi terkuras secepat sebelumnya.

“Ini lebih sulit dari yang aku kira,” gumam Lynx setelah mereka mencapai puncak tanjakan.

“Tentu saja,” jawab Mochi sambil tersenyum. “Latihan ini bukan untuk kekuatanmu, tapi untuk daya tahanmu. Tanpa daya tahan, kekuatan sebesar apa pun tidak akan berguna.”

"Kakek benar,  Lynx. Kamu harus bisa mempertahankan kekuatanmu dalam jangka panjang. Dengan latihan ini, kontrol tenagamu juga akan lebih baik." Kata Lala menambahkan.

Lynx menganggukkan kepalanya, lalu dengan semangat memulai lagi latihan hingga batas kemampuannya.

Setelah melalui berbagai latihan yang melelahkan, di malam hari, saat mereka beristirahat di dekat perapian kecil, Lynx duduk termenung sambil memandangi tangannya. Lala, yang duduk di sampingnya, memperhatikan raut wajahnya yang muram.

“Kau memikirkan sesuatu?” tanya Lala.

Lynx mengangguk perlahan. “Aku ingat saat bertarung melawan pimpinan Monrest. Aku sering kewalahan melawan mereka karena mudah kehabisan energi. Setelah menggunakan kekuatanku, tubuhku seperti terbakar dari dalam. Aku harus istirahat selama berjam-jam sebelum bisa bergerak lagi.”

Mochi, yang mendengar pembicaraan mereka, mendekat dan berkata, “Itu semua karena aliran energimu tidak stabil. Tubuhmu menyerap terlalu banyak energi sekaligus, lalu menggunakannya dengan tidak efisien. Setelah berbagai latihan ini, kamu akan mampu mengontrolnya dengan lebih baik.”

Lynx lalu berdiri dan memandang sebuah pohon di dekatnya. Lynx mengambil sikap kuda-kuda lalu mengangkat tangan kanannya ke atas. Lynx berkonsentrasi mengalirkan kekuatan dari bawah pusarnya mengalir ke tangan. Dia membayangkan kekuatan yang mengalir seperti saat dia mengalahkan pimpinan pasukan Monrest.

"Kakek, apa yang dia lakukan?" Bisik Lala kepada kakeknya.

"Dia sedang memfokuskan kekuatannya. Kita lihat saja apa yang ingin dilakukannya." Jawab Mochi yang juga tidak mengetahui apa yang ingin dilakukan Lynx.

"Kakek... Lihat tangannya! Apa kakek melihat tangan Lynx seperti bercahaya?" Tanya Lala penasaran. Dia mengusap-usap matanya memastikan tidak salah lihat.

Mochi diam tidak menjawab, dia semakin serius memandangi tangan Lynx. Belum pernah dalam hidupnya, dia melihat secara langsung aliran energi yang bisa muncul secara nyata seperti kejadian di depan matanya saat ini. "Bagaimana mungkin energi yang di kumpulkannya bisa berwujud seperti itu?" Batinnya dengan rasa penasaran.

"Pukulan matahari..." Bisik Lynx sambil memukulkan tangan kanannya ke depan ke arah pohon yang sudah di targetkan. Lynx membayangkan kekuatan yang dia kumpulkan akan keluar dari tangannya dan menghantam pohon yang berdiri tidak jauh dari tempatnya.

Namun kenyataannya, tidak terjadi sesuatu pada pohon itu. Lynx justru muntah darah dan terjatuh ke tanah, pingsan.

"Lynx." Teriak Lala panik dan mendekati Lynx. Dia mengangkat kepala Lynx dan meletakkannya di pahanya.

Mochi mendekat dan memeriksa nadi Lynx. Setelah memastikan kondisinya, Mochi bernapas lega. "Dia hanya terkena serangan balik dari energinya sendiri. Biarkan dia istirahat. Kita akan menanyakan apa yang dia lakukan setelah sadar nanti."

Lala dan Mochi mengangkat dan memindahkan Lynx ke tempat yang aman. Dengan kondisi Lynx yang tidak sadarkan diri, mereka harus waspada terhadap bahaya yang bisa terjadi di sekitar mereka.

Keesokan paginya, Lynx terbangun dan merasa seseorang memeluknya. Dia menoleh ke samping dan melihat Lala yang tidur di sampingnya. Lynx memperhatikan wajah Lala, yang terlihat cantik dengan rambut terikat. Kulitnya putih, halus, lehernya ramping seputih salju. Dagunya lancip. Lynx memperlihatkan kecantikan wajah Lala dengan bibirnya yang kecil. Lynx membandingkannya dengan Leena. Mereka sama-sama cantik, namun Leena selain terlihat lebih cantik, juga memiliki kesan wajah imut.

"Apa yang terjadi kepadaku. Kenapa Lala memelukku?" Batin Lynx sambil berusaha mengendalikan dirinya. Dia lalu berusaha mengangkat tangan Lala, melepaskan pelukannya.

Lynx bangun dan melihat Mochi yang duduk tidak jauh dari api unggun di dekat mereka.

"Pagi kakek. Maafkan aku. Apa yang terjadi kepadaku?" Tanya Lynx dengan pelan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Kamu pingsan karena serangan balik dari energimu sendiri. Apa yang ingin kamu lakukan?" Tanya balik Mochi.

Lynx lalu menceritakan mengenai pengalamannya saat terdesak melawan musuh-musuhnya. Lynx menceritakan tentang pukulan matahari yang sering tidak sengaja dia keluarkan saat kondisi terdesak. Semalam, dia ingin mencoba mengeluarkannya lagi karena merasa sudah bisa mengendalikan energinya, tapi ternyata dia gagal.

"Rahasia kekuatanmu kurasa masih sangat banyak yang belum di keluarkan. Kamu harus melakukannya dengan bertahap dan berhati-hati dalam mengendalikannya." Kata Mochi mengingatkan.

Setelah Lala terbangun, mereka bertiga melanjutkan perjalanan. Selama di perjalanan, Lala banyak bertanya mengenai berbagai pengalaman yang sudah Lynx alami, terutama mengenai kekuatannya.

Lynx yang mempercayai Lala dan Mochi, tanpa ragu menceritakan semua hal yang dia ketahui, termasuk mengenai pukulan matahari yang coba di lakukannya tadi malam.

"Lynx, kelak, kamu harus bisa sebaik mungkin merahasiakan kekuatanmu. Jangan biarkan musuh mengetahuinya dan berusaha mendapatkan kekuatanmu." Kata Lala mengingatkan.

